Berita Kampus

Berita KampusAlasan Daihatsu Ogah Jual Mobil Bermesin Kecil

Mobil bermesin kecil atau di bawah 1.000 cc banyak beredar di Jepang. Mobil seperti ini bentuknya kompak dan sudah pasti hemat bahan bakar.

Daihatsu, salah satu merek mobil asal negeri Sakura cukup laris memasarkan mobil-mobil bermesin kecil. Bahkan mereka tak segan membenamkan mesin 600 cc.

Namun demikian, Daihatsu punya alasan ogah jika memasarkan mobil mesin kecil di Tanah Air.

Dilansir Poker Online, meski ada saja kemungkinan mendatangkan mobil bermesin di bawah 1.000 cc, akan tetapi hal itu bukan selera masyarakat Indonesia.

“Orang Indonesia maunya minimal 1.000 cc. Dia merasa 600 cc itu kecil banget. Jadi, edukasinya itu dikepala mereka kaya orang Amerika dulu, yang (suka mesin) size gede-gede. Padahal boros, karena dia feeling-nya lebih power full (cc gede),” ujar Amel saat ditemui wartawan di acara ICE, BSD City, Tangerang.

Selain itu, Amel berpendapat, mobil dengan mesin kecil kerap kali mendapatkan berbagai omongan tak sedap.

[ Baca Juga : “ Ingin Menang di Mobile Legends? 5 Duet Hero Terbaik Ini Patut Kamu Coba ” ]

“Kalau seperti  sekarang saya suka 600 cc, tapi kalau merek jual belum tentu laku. Begitu tahu  600 cc? ‘Hah, 600 cc, lu gila lu kecil banget’,” kata Amel

Kelebihan Mobil Mesin Kecil

Tak dipungkiri, di Indonesia rata-rata produsen mobil menerapkan mesin 1.200 cc. Jikapun ada mesin 1.000 jumlahnya kecil. Bahkan, penjulannya cenderung kecil.

Meski begitu, Amel mengatakan, meski mesin kecil, namun teknologinya bisa membuat lebih efisiensi dalam hal bahan bakar. Selain itu, tenaga bisa saja menjadi powerfull lantaran mengkombinasikan dengan turbo.

Bahkan Amel pernah melakukan studi kepada para pengendara mobil yang menggunakan mesin 600 cc plus turbo. Hasilnya mereka tak menyangka dengan kekuatan yang dihasilkan.

“Biasany sih waktu yang akan membuat mereka lebih banyak tahu. Dengan zaman digital internet, sekaran mudah, jadi lebih gampang mencari informasi. Kalau zaman dulu tidak ada digital, hanya paper (majalah atau koran) dan paling terbitnya cuma seminggu  dan setelah itu dibuang,” tuturnya.