Bitcoin

Berita Kampus – Pergerakan harga Bitcoin pada awal tahun ini dianggap cukup menjanjikan karena mencatatkan start yang terbaik sejak 2012. Buktinya harga Bitcoin sudah meningkat 21% dibandingkan harga awal tahun.

Mengutip Kampusbet, hingga pukul 19.47 WIB, US$8.757,93 per koin atau setara Rp 122,7 juta (asumsi US$1 = Rp 14.000). Kenaikan ini diperkirakan karena kondisi geopolitik yang memanas antara Iran dan Amerika Serikat (AS).

“Ketidakpastian di Iran dikombinasikan dengan peluncuran CME Bitcoin menjadi katalis kuat yang mendorong kenaikan Bitcoin,” ujar Jehan Chu, pendiri Kenetic Capital, perusahaan investasi di startup blockchain, Rabu (15/1/2020).

Harga tertinggi sepanjang masa saat ini adalah US$20.000 per koin pada Desember 2017. Namun setelahnya harga terjun bebas, bahkan pada Desember 2018 harganya jatuh ke US$3.000-an. Setelahnya harga Bitcoin kembali naik pada 2019.

Bitcoin Bergerak Liar Lagi

Bahkan tahun ini diprediksi harganya akan melesat. Pasalnya, akan dilakukan proses halving. Ini adalah memangkas biaya yang didapatkan penambang dari proses. mengurai algoritma matematika guna menghasilkannya. Saat ini penambang mendapatkan imbalan 12,5 sen dolar per blok yang ditambang pada Mei nanti akan turun menjadi 6,25 sen.

Proses halving ini dilakukan empat tahun sekali dan sudah dituliskan dalam kode yang mendasari Bitcoin. Tujuan untuk menjaga inflasi. Proses ini akan mengurangi pasokan yang masuk ke pasar sehingga harga bisa terdongkrak.

Namun bagi head of Asia Luno, bursa penukaran mata uang digital, Vijay Ayyar mengatakan proses halving masih diperdebatkan dan apakah proses ini sudah dimasukkan ke dalam harga atau belum.

“Saya menduga kebanyakan orang tidak menyadarinya, dan ketika harga mulai bergerak naik, massa akan masuk seperti yang kita lihat sebelumnya. Ini dijadwalkan akan terjadi pada Mei 2020,” ujar Ayyar.

Ia memperkirakan harganya bisa tembus US$15.000 (Rp 210 juta) hingga US$16.000 (Rp 224 juta) pada akhir tahun. Kampusbet