Berita Kampus

Berita KampusAnjuran Menghindari Kecelakaan Beruntun Seperti di Tol Cipali

 

Tabrakan beruntun di tol Cikampek-Palimanan (Cipali) mengingatkan kembali keberadaan ‘faktor X’ sebagai penyulut risiko kecelakaan saat berkendara. Pada kondisi seperti itu, pengemudi dituntut sigap mengambil keputusan tepat untuk menyelamatkan diri.

Faktor X merupakan penyebab kecelakaan yang datang di luar kendali pengemudi. Selain tabrakan beruntun hal itu bisa berupa cuaca ekstrem, pecah ban, dilempar batu, atau kejadian yang tidak bisa langsung diterima logika.

Pada kasus tabrakan beruntun di Cipali yang terjadi Senin (17/6) dini hari, bus Safari Dharma kehilangan kendali lantas pindah ke jalur berlawanan lantas menabrak banyak mobil dan truk. Sebanyak 12 orang tewas karena kejadian ini, 43 orang luka, dan enam orang yang terlibat selamat.

Berdasarkan keterangan Kabid Humas Polda Jawa Barat Kombes Trunoyudo Wisnu Andiko, penyebab kecelakaan yakni terjadi perebutan kemudi bus antara sopir dengan penumpang yang memaksa meminta turun. Hal itu merontokkan anggapan sebelumnya bahwa sopir mengantuk.

Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu menjelaskan kita sebenarnya bisa menghindar dari potensi terperangkap tabrakan beruntun bila selalu siap menjalankan sikap berkendara aman. Hal itu dimulai dari persiapan diri sendiri hingga gaya mengemudi.

Perlu diketahui kecelakaan beruntun sering disebabkan lantaran pengemudi tidak siap atau tidak sempat mengantisipasi bahaya perlambatan mendadak kendaraan lain. Hal itu bisa memungkinkan kejadian salah satunya apabila jarak antar kendaraan terlalu dekat.

Jusri menjelaskan pengemudi seharusnya selalu memosisikan mobilnya punya ruang dengan kendaraan lain di area depan dan samping. Teori ini dikatakan biasa disosialisasikan di negara-negara maju seperti Eropa dan Amerika untuk masyarakat.

 

Baca Juga :

5 Kebiasaan ‘Nyetir’ yang Merusak Kopling Mobil Manual

 

“Misalnya di depan mobil, kanan ada mobil, belakang mobil. Usahakan di kiri kita kosong. Atau sebaliknya, di kanan kita kosong. Jangan sampai di semua sisi ada mobil dan tidak ada ruang untuk menghindar,” kata Jusri melalui Kampusbet Agen Judi Bola SBOBET, Senin (17/6).

Jarak aman mobil dari mobil lainnya dikatakan tiga detik. Cara menghitungnya bisa dimulai saat mobil di depan pas melewati satu titik, misalnya plang km jalan tol atau tiang lampu, lantas tiga detik kemudian mobil kita melewati titik yang sama.

“Otak biasanya menangkap bahaya 1,5 detik, reaksinya 1,5 detik juga. Makanya disiplin jaga jarak aman. Sesuaikan lajur yang dipilih dengan kecepatan kendaraan Anda,” kata dia.

Selain menjaga ada ruang untuk berhenti mendadak, Jusri memaparkan langkah lain yang harus diambil pengemudi saat memanuver kendaraannya demi menghindari tabrakan beruntun, yaitu memantau keadaan lewat spion dengan cepat.

“Kalau ingin menghindar ke kanan, ya cek spion kanan lebih dulu. Jangan main belok atau yang ada nanti malah menciptakan masalah baru,” ucap dia.

Terlanjur Terjebak

Bila terlanjur dan tidak memiliki celah untuk menghindar, Jusri mengarahkan agar pengemudi berani mengambil memilih resiko yang paling kecil. Dikatakan Jusri pengemudi bisa mengambil tindakan mengarahkan kemudi ke objek lain di sekitar yang dinilai tingkat benturannya lebih ringan.

“Misalnya di kiri ada kendaraan yang sudah berhenti, atau di kanan ada pembatas jalan. Masuk saja. Tidak apa-apa ada benturan atau serempet, itu lebih baik dari pada dia terjepit,” ucapnya.

Jusri menambahkan, hal yang paling penting dari teori tersebut, yakni pengemudi tidak boleh panik saat menghadapi masalah apapun di jalan raya. Selain itu Jusri juga bilang tetaplah berwaspada selagi kita mengemudi di tol, jaga konsentrasi dan tidak mudah terlena agar bisa mengantisipasi segala bentuk bahaya.Kampusbet Agen Judi Bola SBOBET