Berita Kampus

Berita KampusBahaya, Sakit Gigi Bisa Picu Penyakit Kronis

 

Memperhatikan kesehatan gigi dan mulut agar tidak sakit tampaknya belum begitu menjadi prioritas bagi masyarakat Indonesia.

Secara umum, perhatian perihal kesehatan lebih tertuju kepada penyakit-penyakit kronis, seperti jantung, diabetes, hingga stroke. Padahal, keduanya sangat berkorelasi. Sakit gigi berpotensi memicu munculnya penyakit kronis.

Para ahli medis menyebutkan bahwa infeksi gigi bisa menyebabkan kelainan jantung, infeksi ginjal, infeksi lambung, hingga memperberat penyakit diabetes.

Penyebabnya, bakteri yang ada pada rongga mulut dan gigi menyebar ke peredaran darah. Bakteri-bakteri tersebut akan bersarang ke berbagai organ tubuh dan menyebabkan penyakit-penyakit kronis tersebut.

Kesehatan gigi dan mulut bahkan dinilai mencerminkan status kesehatan tubuh secara keseluruhan. Dokter gigi bisa mendeteksi penyakit hanya dengan melihat gejala dan perubahan yang tampak pada gigi dan mulut.

Sebaiknya, merawat kesehatan gigi dan mulut tidak lagi disepelekan, dan perlu upaya pencegahan sakit gigi sejak dini. Anak-anak menjadi sasaran utama untuk mencegah penyakit gigi. Sayangnya, hingga saat ini angka kesehatan gigi anak-anak Indonesia terbilang rendah, dan hal itu akan memberi dampak di kemudian hari.

Mengutip data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, hanya 2,8% masyarakat berusia 3 tahun ke atas yang sudah memiliki perilaku menyikat gigi dua kali sehari, yaitu pagi dan malam. Hal ini yang antara lain menyebabkan 90,2% anak Indonesia berumur 5 tahun memiliki masalah gigi berlubang, dengan indeks DMF-T atau jumlah rata-rata kerusakan gigi sebesar 8,1.

Di kelompok usia selanjutnya yaitu anak berusia 12 tahun, terlihat data yang agak membaik dimana 72% dari mereka mengalami masalah gigi berlubang dengan indeks DMF-T sebesar 1,9.”

Namun, kondisi ini kembali memburuk pada kelompok usia dewasa, yaitu usia 35—44 tahun dan dilaporkan bahwa 92,2% di antaranya memiliki masalah gigi berlubang, dengan indeks DMF-T sebesar 6,9.

Selain itu, data lain juga menyebutkan bahwa dari 57,6% penduduk Indonesia yang mengakui mengalami masalah kesehatan gigi dan mulut, hanya 10,2% dari mereka yang mendapatkan pelayanan dari tenaga medis.

Semua fakta ini menunjukkan bahwa perawatan kesehatan gigi dan juga kunjungan ke dokter gigi belum dijadikan sebagai suatu kebiasaan yang dilakukan secara kontinyu.

Ketua Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PB PDGI) Sri Hananto Seno mengungkapkan bahwa saat ini, secara nyata gigi berlubang masih menjadi masalah besar bagi kesehatan gigi dan mulut anak-anak Indonesia. Secara umum, kondisi tersebut dinilai memprihatinkan.

“Kesehatan gigi Indonesia belum menggembirakan. Setiap orang rata-rata ada kerusakan 7 gigi. Ini jauh dari standar internasional. FDI menargetkan hanya 2—3 gigi saja,” tuturnya seperti dilansir oleh Kampusbet.

Kondisi tersebut bisa membuat Indonesia kurang optimistis untuk bisa mencapai target bebas karies pada 2030 mendatang. “Enggak mungkin. Indikatornya apakah tercapai? Usia 12—15 tahun harusnya tidak ada karies, karena gigi baru keluar. Ini menjadi concern [perhatian].”

 

Baca Juga :

Flu Babi Afrika, Hong Kong Musnahkan 6 Ribu Ekor Babi

 

PROTEKSI DALAM KANDUNGAN

Seno menjelaskan bahwa proteksi terhadap sakit gigi seharusnya dilakukan sejak hamil, sebab gigi terbentuk sejak di dalam kandungan sehingga perlu suplai untuk penguatan gigi. Tidak harus dengan obat, tetapi bisa dengan asupan makanan.

Menurutnya, ada tiga makanan yang sangat baik untuk dikonsumsi oleh ibu ketika hamil agar bisa mendorong terbentuknya gigi yang sehat pada sang bayi. Yakni, ikan teri, bayam, dan air teh. Ketiganya dianggap baik lantaran memiliki kandungan zat flour yang tinggi. Semakin banyak dikonsumsi, zat tersebut akan dialirkan ke geraham dan memberi unsur proteksi sehingga dapat terbentuk gigi yang kuat. Semakin kuat gigi, otomatis akan semakin tahan dari karies gigi.

Lalu, setelah lahir, sang ibu tetap mengonsumsi makanan tersebut, nantinya anak tetap mendapat asupan melalui susu yang diberikan sang ibu. Dan setelah tumbuh, anaklah yang perlu sadar untuk merawat gigi, tentu dengan perhatian dari lingkungan sekitar, terutama orang tua (keluarga) dan guru (sekolah). Standar perawatan gigi yang baik adalah menyikat gigi pada pagi dan malam hari setiap hari dan memeriksanya setiap 6 bulan sekali.

Menurut survei yang dilakukan oleh FDI World Dental Federation di awal 2019 di 13 negara (termasuk di Indonesia), 78% dari orang tua di Indonesia menyatakan bahwa sekolah merupakan tempat yang tepat bagi anak untuk mendapatkan edukasi tentang kesehatan gigi dan mulut.

Program tersebut masih menjadi langkah yang strategis karena nyatanya orang tua masih mengandalkan sekolah untuk bisa memberikan pendidikan mengenai kesehatan gigi dan mulut kepada anak-anak mereka.

DAMPAK FISIK & PERFORMA

Ratu Mirah Afifah selaku Division Head for Health & Wellbeing and Professional Institutions Yayasan Unilever Indonesia menjelaskan bahwa berdasarkan hasil survei pihaknya, banyaknya anak Indonesia yang mengalami keluhan sakit gigi selama satu tahun terakhir mencapai sebesar 64%. Sebanyak 41% dari mereka menyatakan bahwa intensitas rasa sakitnya mencapai tingkat sedang hingga berat.

“Masalah ini ternyata menyebabkan mereka menemui banyak kesulitan di sekolah, baik dalam meraih prestasi akademis maupun bersosialisasi,” tuturnya.

Akibat sakit gigi, 37% anak mengaku harus absen dari sekolah dengan jumlah absen rata-rata dua hari per anak dalam setahun. Rasa sakit pun menyebabkan 29% dari anak-anak tersebut mengalami gangguan tidur sehingga terpaksa harus sekolah dalam keadaan mengantuk.

Didapati pula sebagian besar dari mereka sulit berkonsentrasi dan tidak bisa turut aktif dalam berbagai kegiatan sekolah, akhirnya kemampuan mereka untuk menyerap materi pelajaran menjadi sangat terganggu.

“Anak-anak yang bermasalah dengan gigi dan mulut cenderung dua kali lebih rentan untuk mengalami krisis kepercayaan diri, kesulitan bersosialisasi bahkan menolak untuk memperlihatkan senyum mereka dibandingkan dengan anak-anak yang memiliki gigi dan mulut yang sehat,” lanjutnya.

Menanggapi survei tersebut, psikolog anak dan keluarga Ayoe Sutomo berpendapat bahwa dalam menemukan rasa percaya diri ada beberapa komponen yang saling mendukung, di antaranya adalah rasa nyaman terhadap diri sendiri yang menimbulkan perasaan positif serta membuat diri merasa berharga, atau biasa disebut dengan self-esteem.

Kebiasaan hidup sehat, termasuk merawat kesehatan gigi, lanjutnya, merupakan salah satu hal yang mendukung anak untuk memiliki self-esteem yang baik, karena dengan kebiasaan ini maka anak akan mendapatkan feedback positif dari lingkungan yang membuatnya merasa nyaman sehingga dia akan lebih mudah memiliki pandangan atau konsep yang positif terhadap dirinya.

“Fondasi self-esteem berawal dari anak-anak. Salah satu faktornya adalah kondisi fisik, diantaranya gigi. Kalau fisik baik, self-esteem baik. Akan lebih mampu menghadapi tantangan dan bisa lebih percaya diri. Ini terbawa hingga dewasa, jadi korelasinya sangat kuat,” ujarnya. – Kampusbet