Berita Kampus

Berita KampusBanting Tulang di Arab Saudi

 

Bagi sebagian orang bekerja di Arab Saudi adalah mimpi yang harus diwujudkan. Iming-iming gaji besar dan kemudahan untuk umroh atau naik haji kerap memikat siapapun, termasuk saya.

Sebut saja nama saya Udin. Saya pertama kali meninggalkan kampung halaman di Gresik, Jawa Timur, untuk menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) lebih dari 10 tahun yang lalu.

Saat itu Arab Saudi masih di bawah kepemimpinan Raja Fadh. Selama lebih dari 10 tahun, saya sudah tiga kali berganti perusahaan.

Ketika pertama kali datang ekonomi sedang berkembang pesat, saya menjadi semangat untuk bekerja di kota Jeddah.

Namun kenangan manis itu tidak bertahan lama. Saat ini kondisi Arab Saudi sudah tidak terlalu menjanjikan, krisis moneter sedang melanda negeri ini.

Bahkan menurut saya negeri ini kurang baik untuk Tenaga Kerja Wanita (TKW), karena tidak ada aturan perlindungan khusus untuk pekerja asing wanita.

Andaikan ada pun, mungkin hanya lima persen saja yang dipraktikkan.

Untuk kasus kekerasan sendiri banyak sekali terjadi di Arab Saudi dan hanya sedikit sekali yang diberitakan ke publik.

Banyak TKI, khususnya mereka yang bekerja informal, yang tidak diuruskan dokumen perpanjangan paspor puluhan tahun oleh majikannya.

Dilansir oleh Agen Bola Online, TKI formal adalah mereka yang bekerja di luar negeri pada berbagai perusahaan atau organisasi yang berbadan hukum, memiliki kontrak kerja yang kuat, dilindungi secara hukum di negara penempatan sehingga relatif tidak mendapatkan permasalahan selama bekerja di luar negeri.

 

Baca Juga :

Induk Google Rogoh Kocek Lebih untuk Tinjau Konten

 

Sedangkan TKI informal atau biasa disebut domestic worker atau asisten rumah tangga adalah mereka yang bekerja di luar negeri pada pengguna perseorangan yang tak berbadan hukum sehingga hubungan kerjanya subjektif dan relatif rentan menghadapi permasalahan.

TKI informal sebenarnya tidak ada dalam teori, namun praktiknya masih ada.

Dari Indonesia mereka direkrut oleh perusahaan. Namun setelah sampai di Arab Saudi mereka dilempar ke perusahaan lain, semacam outsourcing. Oleh karena itu keamanan TKI informal sangatlah rawan.

Banyak sekali TKI informal di pinggiran kota  yang bekerja tidak sesuai kontrak, karena sebagian penduduk Arab masih beranggapan kalau membeli pekerja berarti bisa memperbudaknya.

Teman-teman TKI informal kesulitan untuk mengadu, sedangkan perlindungan dari pihak perwakilan Indonesia di sini sangat terbatas.

Belum lagi jika ada kasus hukum yang bersangkutan dengan penduduk Arab, pihak pendatang rentan sebagai pihak yang disalahkan.

Di hari libur, saya dan teman-teman TKI lainnya sering bertemu untuk berbincang.

Selain bercerita mengenai pengalaman lucu atau menyebalkan, kami juga sering berdiskusi agar seluruh TKI, baik formal atau informal, di Arab Saudi bisa melindungi diri, bisa memahami aturan kerajaan agar tidak perlu berurusan dengan hukum.

Tahun ini tepat Ramadan ke-sepuluh saya di sini. Perlu diketahui kalau bulan puasa menjadi bulan paling melelahkan bagi para TKI yang bekerja sebagai asisten rumah tangga.

Bagaimana tidak, para tuan rumahnya pasti masak besar setiap harinya, entah untuk keluarganya atau untuk tamu undangannya. Namun tetap saja pekerja yang harus banting tulang mengolahnya.

Saya berharap tahun ini pemerintah semakin lebih memerhatikan nasib TKI, sehingga semua bisa dengan selamat sampai di Tanah Air untuk menikmati hasil jerih payah bersama keluarganya. – KAMPUS BET