Berita Kampus

Berita KampusBeredar Luas di Masyarakat, Ini Mitos Seputar HIV/AIDS yang Paling Ditakuti

 

Mendengar penyakit HIV/AIDS mampu membuat banyak orang bergidik, mengingat stigma yang ada seputar penyakit satu ini.

Menjadi momok yang menakutkan, tidak terhindarkan banyak mitos yang bergulir seputar HIV/AIDS di kalangan masyarakat awam.

Nah, agar tidak memiliki pemahaman yang keliru seputar HIV/AIDS, penting adanya untuk kita mengetahui apa saja sih sebetulnya mitos yang beredar sekaligus fakta sebenarnya tentang penyakit HIV/AIDS. Berikut di bawah ini ulasan singkatnya, yuk disimak!

1. Mitos bisa tertular HIV dari gigitan nyamuk 

Mengingat HIV menyebar melalui darah, banyak orang yang khawatir bahwa serangga yang menggigit atau mengisap darah seperti nyambuk dapat menyebarkan HIV. Namun beberapa penelitian tidak menunjukkan bukti untuk mendukung mitos ini, bahkan untuk di daerah dengan banyak nyamuk dan kasus HIV. Ketika serangga menggigit, mereka tidak menyuntikkan darah orang atau hewan yang terakhir mereka gigit. Ditambah juga, sebetulnya HIV hidup hanya sebentar di dalam serangga.

2. Obat-obatan tradisional bisa menyembuhkan HIV

Seputar pengobatan tradisional untuk HIV AIDS disebutkan kontroversial. Salah satunya, sebagian besar disebabkan oleh promosi obat tradisional pemerintah Afrika Selatan sebagai alternatif ARV, hingga tahun 2008 lalu. Padahal diketahui lebih lanjut, obaat-obatan tradisional belum terbukti secara empiris (pengalaman nyata) bisa menyembuhkan HIV. Untuk pengobatan, mungkin ada obat-obat herbal yang mengurangi gejala infeksi oportunistik HIV, namun sampai saat ini tidak ada obat untuk HIV.

3. Bisa sembuh dengan berhubungan intim dengan perawan atau perjaka

Tidak ada cerita orang dengan HIV tiba-tiba sembuh hanya karena berhubungan seks dengan perawan atau perjaka. Sebab hal ini memang tidak menyembuhkan HIV, justru berhubungan seksual apakah dengan perawan atau non-perawan adalah cara utama dalam penyebaran HIV. Hal ini hanya akan menularkan virus ke perawan yang mungkin atau mungkin tidak HIV negatif.

 

Baca Juga :

Antartic Gold Krill Oil, Terobosan Mutakhir Era Suplemen Kesehatan

 

4. Jika diri dan pasangan positif HIV, maka tidak bisa punya anak

Ini bisa dibilang keliru, sebab Pperempuan yang terinfeksi HIV bisa kok tetap subur dan memiliki anak. Jika ibu dan bayinya menggunakan obat yang benar, mungkin saja bagi perempuan yang positif HIV-positif untuk memiliki bayi yang negatif HIV. Sedangkan, dengan tanpa menggunakan obat-obatan, disebutkan ada kemungkinan sekitar 30persen perempuan yang terinfeksi HIV akan menularkan virus ke bayi mereka. Baik itu ketika di dalam rahim, selama kelahiran atau saat menyusui. Tetapi jika ibu dan bayinya, atau bahkan hanya salah satu dari mereka, menggunakan ARV jangka pendek, kebanyakan nevirapine dan AZT, maka tingkat penularan bisa berkurang secara signifikan.

5. Gejala HIV mudah dilihat

Sejatinya ini mitos belaka, faktanya gejala HIV itu berbeda-beda di setiap orang. Bahkan ada juga beberapa orang yang tak menunjukkan gejala sama sekali. Sebagai catatan, untuk orang-orang yang hidup dengan HIV, apabila menjalani pengobatan yang efektif, secara tampilan mereka sama sehatnya dengan orang lain pada umumnya.

6. HIV adalah penyakit homoseksual

Meskipun pria yang berhubungan seks dengan pria dikatakan sebagai populasi yang paling berisiko. Nyatanya penularan HIV melalui hubungan seksual heteroseksual justru jadi jadi hal yang paling umum.

Secara fakta, hingga 80persen penularan HIV itu terjadi melalui hubungan seks heteroseksual (berbeda jenis kelamin) tetapi HIV tertular jauh lebih mudah melalui seks anal karena anus rentan terhadap luka dan pendarahan, yang meningkatkan risiko infeksi. Meski pria yang berhubungan seks dengan pria dan heteroseksual yang melakukan hubungan seks anal tanpa kondom sangat rentan terkena, tapi fakta berbicara perempuan lebih mudah tertular HIV daripada pria loh!

Seorang wanita memiliki kemungkinan satu dari 200 untuk tertular HIV dari pertemuan heteroseksual seksual tunggal. Sebab semen, yang memiliki konsentrasi HIV tinggi ada di dalam rahim wanita dan bisa tinggal di sana selama setidaknya tiga hari, meningkatkan kemungkinan infeksi.

Ditambah selaput lendir di daerah di mana penis memasuki tubuh wanita memiliki banyak sel CD4, yang dikaitkan dengan HIV, lagi-lagi membuat perempuan lebih mungkin untuk tertular virus dibanding pria yang memiliki peluan satu dari 700. Demikian seperti diwarta Kampus Bet, Sabtu (30/11/2019). Kampus Bet