Berita Kampus

Berita Kampus – Kena Embargo, Harga Huawei P30 Pro ‘Terjun Bebas’

 

Harga ponsel terbaru Huawei, P30 Pro terjun bebas di pasar Eropa. Harga ponsel anyar ini turun 90 persen setelah perusahaan itu masuk daftar hitam AS. Awalnya, Huawei P30 Pro dibanderol Rp 15,9 juta di pasar Eropa, salah satu pasar terbesar Huawei. Namun, setelah AS mengembargo perusahaan AS untuk memasok teknologi ke Huawei, termasuk Android, harganya ponsel itu tinggal 10 persen dari harga asli, menjadi Rp 1,5 juta saja.

“Banyak pelanggan yang sangat tertarik untuk mengembalikan perangkat atau mengganti merek setelah mengetahui bahwa ponsel telah jatuh nilainya,” kata analis dari Canalys, Ben Stanton, seperti dikutip Kampus Bet.

Selain Google, ponsel Huawei juga bergantung pada pemasok komponen asal AS lainnya, seperti Qualcomm, Broadcom, Qorvo, hingga Skyworks. Ini adalah deretan perangkat keras yang mesti digunakan Huawei untuk membangun ponsel pintar miliknya.

Namun, Huawei mengatakan perusahaannya sejak tahun lalu sudah mulai menimbun komponen dan teknologi untuk mengantisipasi embargo yang akan dilakukan AS.

Kendati demikian, meskipun perusahaan mampu membeli semua teknologi dan perangkat lunak yang diperlukan untuk bisnis ponsel, embargo ini memberikan dampak yang cukup dalam.

Analis dari IDC, Bryan Ma mengatakan mengatakan pemasok paling penting untuk bisnis ponsel cerdas perusahaan saat ini adalah Google.

Google membatasi akses Huawei ke sistem operasi (OS) dan aplikasi Android bulan lalu untuk mematuhi pembatasan pemerintah AS.

 

Baca Juga :

Apple Dikabarkan Bakal Rakit Mac Pro di China

 

“Dengan asumsi bahwa Google […]mendapatkan lisensi untuk menjual ke Huawei, itu merupakan kelegaan besar bagi Huawei,” kata Ma, seperti dikutip CNN.

Seperti kebanyakan ponsel pintar lain di dunia, perangkat Huawei menggunakan sistem operasi Google Android. Sistem operasi ini mencakup berbagai aplikasi dan layanan populer seperti Google Maps dan Gmail. Tanpa adanya aplikasi-aplikasi ini, ponsel pintar Huawei kurang memberikan tawaran menarik bagi pengguna di luar China.

Dalam enam minggu terakhir, penjual internasional dan konsumen khawatir apakah ponsel Huawei masih bisa menggunakan layanan dan pembaruan keamanan dari Google.

“Konsumen jelas tidak ingin membeli ponsel yang tidak memberi mereka layanan yang mereka inginkan, dan penjual tidak ingin mengambil banyak barang yang tidak bisa mereka jual,” katanya.

Perhitungan kasar dari Canalys dan IDC menunjukkan setengah penjualan ponsel Huawei pada 2018 berasal dari luar China. Ma mengatakan penjual dan konsumen khawatir terkait keberadaan layanan Google dan pembaruan keamanan di ponsel Huawei.

Google menyatakan perusahaan sedang berdiskusi dengan Departemen Perdagangan untuk memastikan bahwa perusahaan memenuhi persyaratan penghapusan embargo.

“Para pengecer dan konsumen itu terguncang kepercayaan mereka. Sekarang ada dugaan, ada tanda tanya di sekitar Huawei, apakah (larangan ekspor AS) akan menjadi masalah lagi (di masa depan),” ujar Ma.

Huawei akhirnya punya celah untuk memulihkan bisnis ponsel pintarnya. Kesempatan ini datang setelah Presiden Amerika (AS) Donald Trump menghentikan embargo bagi perusahaan AS untuk menjalin bisnis dengan perusahaan China itu.

Namun, Huawei sepertinya tak bisa langsung girang. Sebab, pemerintah AS masih belum memberikan keterangan yang jelas soal perusahaan AS mana saja yang diizinkan untuk kembali berbisnis dengan Huawei. Kampus Bet