Berita Kampus

Berita Kampus‘Kulit Pintar’ Bersensor Magnet

 

Kulit buatan tidak hanya digunakan agar robot memiliki kemampuan baru yang menyerupai manusia atau makhluk lainnya, tetapi juga bisa digunakan oleh manusia sendiri.

Meskipun sebagian peneliti mengembangkan kulit buatan untuk menggantikan kulit yang sudah ada (misalnya karena luka bakar), cukup banyak juga yang menginginkannya sebagai bagian dari sistem peranti sandangan.

Pada manusia, kulit buatan sebagai bagian dari peranti sandangan ini pada dasarnya digunakan untuk menambahkan kemampuan baru pada indera yang sudah ada. Ini biasanya dilakukan dengan menanamkan sensor dan berbagai alat pendukungnya, seperti kawat, baterai, dan antena.

Namun, menambahkan semua perangkat tersebut membuat kulit buatan itu sendiri menjadi kurang nyaman digunakan. Kulit buatan seperti ini juga kerap menuntut proses fabrikasi mikro yang rumit.

Para peneliti di King Abdullah University of Science and Technology (KAUST) memecahkan masalah pada kulit buatan ini dengan menyingkirkan hampir semua peranti tambahan yang lazim ditemukan pada kulit buatan (atau “kulit pintar”) lainnya.

 

Baca Juga :

iPad Generasi 7 Baru Meluncur, Tampil Lebih Lega

 

Hasilnya adalah kulit buatan yang tipis dan sangat lentur. Agar dapat digunakan dengan peranti lainnya, tim dari KAUST ini menambahkan fungsi magnetik pada kulit buatan tersebut.

Kulit buatan dari Arab Saudi tersebut dibuat dengan mencampurkan matriks elastomer dengan bubuk magnetik, yang kemudian dikeringkan pada suhu kamar. Hasilnya kemudian dimagnetisasi, baik dengan magnet permanen atau elektromagnet sesuai keperluan. Kemudian, sensor magnetik bisa ditambahkan untuk kulit buatan ini.

Kulit buatan ini kemudian bisa digunakan untuk berbagai penerapan dan teknologi sandangan. Sebagai contoh, bila ditempelkan pada kelopak mata, kulit ini bisa membantu sistem yang melacak pergerakan mata.

Bila dipasang di jari tangan atau pada sarung tangan, kulit ini bisa digunakan untuk mengendalikan peranti tanpa harus menyentuhnya, bahkan dari jarak jauh. Karena kulit tersebut bersifat magnetik, perubahan medan magnet yang disebabkan oleh pergerakan kulit bisa dideteksi oleh sensor magnet yang kemudian bisa menafsirkannya sesuai kebutuhan.

Di situs Kampus Bet, salah satu peneliti, Profesor Jurgen Kosel yang juga menjadi supervisor tim penelitian, menyebutkan kulit magnetik ini juga akan berguna pada aplikasi seperti pengendalian rumah pintar, realitas virtual, dan realitas tertambah.

Hasil penelitian dari KAUST ini telah diterbitkan pada jurnal Advanced Materials Technologies, dengan judul An Imperceptible Magnetic Skin, pada 16 Agustus 2019.  Kampus Bet