Berita Kampus

Berita KampusTetap Santai dan ‘Cool’ Saat Ditanya ‘Kapan Kawin?’

 

Kapan kawin?’ Pertanyaan ini kerap dianggap cukup menganggu selain pertanyaan ‘Kok kamu gemukan?’

Setahun sekali bertemu keluarga besar, pertanyaan ini malah dirasa makin jadi tuntutan. Seolah memiliki pasangan adalah harkat tertinggi dalam hidup. Kenyataannya sebagian masih memilih single karena ada hal-hal yang ingin dicapai sebelum dipasung hidup berumah tangga.

Psikolog Ayoe Sutomo mengatakan pertanyaan semacam ini memiliki pengaruh berbeda pada masing-masing individu. Buat individu yang tidak mudah terpengaruh dengan kondisi eksternal, pertanyaan ini tidak banyak memberikan pengaruh.

“Kalau tipikal kepribadian yang mudah terganggu dengan statement eksternal mungkin bisa terpengaruh. Timbul perasaan tidak nyaman, merasa terganggu dan membuat individu cenderung menarik diri karena pertanyaannya hanya itu-itu saja,” kata Ayoe pada¬†Kampusbet Agen Judi Bola SBOBET melalui pesan singkat beberapa waktu lalu.

Individu bisa menarik diri dari lingkungan yang sering memunculkan pertanyaan serupa. Efek lain yang bisa saja terjadi karena pertanyaan ‘Kapan kawin?’ adalah individu memutuskan untuk memajukan deadline pernikahan. Individu seakan harus sesegera mungkin memiliki pasangan. Padahal ini bukan alasan tepat untuk memutuskan berkomitmen menikah.

 

Baca Juga :

Tips Makeup Kece dan Tak Takut Luntur saat Lebaran

 

Lalu bagaimana mengatasi pertanyaan ‘Kapan kawin?’ dengan aneka padanannya?

Menurut Ayoe jawabannya bisa beragam termasuk jawaban apa adanya misal masih ingin melanjutkan studi sehingga pernikahan belum jadi fokus utama. Jika perlu, keluarga inti turut memberikan dukungan karena kadang yang mempermasalahkan justru mereka yang di luar keluarga inti.

Dia mengingatkan untuk selalu santai menghadapi pertanyaan ini. Pertanyaan ini tidak bisa dikontrol karena individu tak mungkin meminta keluarga besar untuk bertanya. Dua hal yang bisa dikontrol yakni respons dan persepsi.

“Sekalinya kita punya keinginan mengontrol lingkungan yang ada kita malah jadi stressfull termasuk juga atas komentar-komentar orang di hari tertentu termasuk Lebaran. Jadi yang paling memungkinkan adalah mengontrol respons kita terhadap hal tersebut dan mengontrol persepsi akan hal itu,”jelas Ayoe.

Respons artinya reaksi atau jawaban terkait pertanyaan. Demi menjaga relasi plus menjaga adat ketimuran sebaiknya individu memberikan respons yang baik dan sopan.

Kemudian persepsi atau apa yang dipikirkan. Jika pertanyaan dipersepsikan sebagai sesuatu yang negatif tentu ini bisa merusak diri.

“Kalau persepsi kita sebagai sesuatu hal yang santai, toh pertanyaan itu enggak ngaruh ke gue, toh emang enggak bisa kontrol pertanyaannya, pertanyaannya enggak berpengaruh, itu membantu kita untuk mengatasi situasi tersebut dengan santai dan baik,” katanya. – Kampusbet Agen Judi Bola SBOBET